PINGGIR, ( Detikperjuangan.com) – Upaya mencari kejelasan atas meninggalnya Rey Fran Saragih dalam kegiatan Pramuka sekolah kembali menemui jalan buntu. Rosliani Purba, selaku Ibu Almarhum mendatangi SDS KLK (SD Swasta Kuala Lumpur Kepong) PT Adei Pinggir, namun pulang dengan kekecewaan setelah pihak sekolah menutup pintu mediasi, Selasa (4/3/2026).
Didampingi perwakilan GERMAS PPA, Ricka Parlina, SH, Rosliani berharap mendapat ruang dialog dan pertanggungjawaban moral dari pihak sekolah atas peristiwa yang terjadi 1,6 tahun lalu. Namun, pertemuan yang semula dikabarkan telah dijadwalkan justru berakhir singkat tanpa kesepakatan.
Kepala SDS KLK, Yusniati, dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa persoalan tersebut tidak perlu lagi dibahas.
“Kejadian ini kan sudah lama. Sudah berdamai dan sudah selesai masalah ibu,” ujarnya singkat.
Pernyataan itu sontak memicu kekecewaan mendalam dari pihak keluarga. Di hadapan awak media, Rosliani tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
“Ibu juga seorang ibu. Ibu punya hati, kan? Ibu pasti paham perasaan saya. Anak saya meninggal dalam kegiatan sekolah. Sampai hari ini saya masih mencari kejelasan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ricka Parlina, SH, mengecam sikap yang dinilai menutup ruang klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab kepala sekolah tidak berhenti hanya karena waktu telah berlalu.
“Jabatan Kepala Sekolah melekat tanggung jawab hukum dan moral terhadap keselamatan siswa dalam setiap kegiatan resmi sekolah. Waktu boleh berlalu, tetapi nyawa seorang anak tidak bisa dianggap selesai hanya dengan kalimat ‘sudah lama’,” tegas Ricka.
Menurutnya, kegiatan Pramuka yang diikuti almarhum pada 14 Agustus 2024 berada di bawah koordinasi dan izin institusi pendidikan, sehingga aspek pengawasan dan standar keselamatan menjadi hal yang patut dipertanyakan.
“Kami datang bukan untuk membuat kegaduhan. Kami meminta penjelasan, transparansi, dan itikad baik. Jika ruang mediasi ditutup, tentu ada langkah lain yang akan kami pertimbangkan,” lanjutnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan lanjutan selain pernyataan bahwa persoalan tersebut dianggap telah selesai. Sementara itu, keluarga almarhum bersama GERMAS PPA masih mempertimbangkan langkah hukum sebagai upaya mencari kepastian dan keadilan.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya standar keamanan dan pengawasan dalam setiap kegiatan luar ruangan yang melibatkan peserta didik.(***);



Posting Komentar