Loading...

Sempat Jalani Perawatan, Gajah Betina di Riau ini Akhirnya Mati

 



Pekanbaru (detikperjuangan.com) - Gajah betina dewasa yang sebelumnya sempat mendapatkan perawatan oleh tim medis BBKSDA Riau, ditemukan mati di Bukit Apolo, Desa Bagan Limau, Ukui, Pelalawan. Satwa dilindungi bernama latin Elephas Maximus Sumatranus itu ditemukan mati pada Rabu (27/10) lalu.

Dimana saat itu Resort Air Hitam Bagan Limau (AHBL), Balai Taman Nasional Tesso Nilo menerima (TNTN) laporan dari masyarakat bahwa adanya 1 ekor gajah mati di Bukit Apolo. Kemudian, informasi tersebut ditindak lanjuti dengan langsung mendatangi lokasi bersama BBKSDA Riau.

Plt. Kepala Besar KSDA Riau, Fifin Arfiana Jogasara mengatakan, tiba di lokasi benar saja tim menemukan bangkai gajah betina yang sebelumnya mendapatkan perawatan petugas, lantaran mengalami peradangan di bagian reproduksinya. Hal ini diperkuat dengan ciri-ciri gajah tersebut.

"Tim gabungan langsung melakukan nekropsi di lokasi untuk memastikan penyebab kematian," ujarnya.

Dari nekropsi itu, didapatkan data bahwa gajah berjenis kelamin betina itu memiliki tinggi badan 2,17 m, berat badan 2 ton, tebal kulit perut 0,4 cm, tebal kulit punggung 1,2 cm.

Gajah sumatera tersebut diperkirakan mati pada Selasa (26/10) pagi yang disebabkan infeksi organ pencernaan, malnutrisi dan dehidrasi.

Sebagai pengingat, gajah malang itu ditemukan sakit di Desa Pontian Mekar, Lubuk Batu Jaya, Indragiri Hulu (Inhu).

Pengobatan itu berawal pada Kamis (21/10) tim mendapatkan laporan adanya gajah liar berjenis kelamin betina memasuki perkebunan sawit, di desa tersebut dalam keadaan sakit. Wilayah itu sendiri berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Selanjutnya, keesokan harinya Jumat (22/10) tim kemudian meninjau lokasi bersama aparat desa setempat. Benar saja ditemukan satwa berbelalai itu dengan badan kurus dan kondisi lemas. Di sekitar lokasi tampak Gajah tersebut memuntahkan batang dan pelepah sawit yang dimakannya. 

Tim selanjutnya melaporkan hasil investigasi lapangan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan tindakan anarkis satwa yang dilindungi tersebut. 

"Sabtu (23/10) tim langsung melakukan pengobatan terhadap gajah tersebut. Dimana dilakukan pembiusan, identifikasi dan pemeriksaan," tuturnya.

Dari pemeriksaan, gajah itu berumur 30 tahun dengan tinggi 217 cm dan berat badan lebih kurang 2 ton. Namun kondisi badannya kurus dan nafsu makannya kurang.

Kemudian, gajah malang itu juga mengalami radang atau pembekakan dan luka terbuka pada bagian organ reproduksi luar yang telah ada larva ulat di bagian tersebut. 

Tim kemudian melakukan pembersihan luka dan pemberian obat topikal pada daerah luka. Pengambilan sampel darah juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan gajah secara umum.

Usai dilakukan pengobatan, tim medis segera menyadarkan satwa dan melepasliarkan kembali ke habitatnya sambil melakukan pemantauan dan pengamatan pergerakan satwa untuk mengetahui kondisi selanjutnya. Gajah terlihat bergerak lebih gesit dari sebelum pengobatan. 

Senin, (25/10) tim patroli Yayasan TNTN dari Desa Lubuk Kembang Bunga mendapatkan informasi warga, gajah liar tersebut sudah mengarah ke hutan tersisa kawasan Balai Taman Nasional Tesso Nilo sekitar Bukit Apolo dan pondok Kompe. Hingga akhirnya ditemukan mati.( PAS/dpc) 
Lebih baru Lebih lama