Loading...

Perbatasan Riau-Sumut Padat Merayap Gara-gara Antrean SPBU, Stok Solar Dibatasi

 



PEKANBARU (Detikperjuangan.com) - Pengurangan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi bio solar untuk wilayah Riau tahun 2022 sebesar 7-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, berdampak antrean panjang disejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Riau. 

Antrean panjang pengisian BBM bio Solar kerap terjadi di daerah perbatasan Riau dengan provinsi tetangga, seperti perbatasan Riau-Sumatera Utara (Sumut) di wilayah Bagan Batu, Rokan Hilir. 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga, Rudi, antrean panjang pengisian bio solar di SPBU perbatasan Riau-Sumut terjadi hingga berjam-jam.

"Antrean panjang di SPBU perbatasan Bagan Batu, Riau dengan Cikampak Sumatera Utara akibat menunggu pengisian BBM Jenis Solar. Antrean terjadi mulai jam 20:00 WIB, dan macet total pada 23:15 WIB hingga sekarang pukul 04.00 WIB," kata Rudi. 


Antrean panjang terjadi di SPBU perbatasan Provinsi Riau - Sumut

Kondisi tersebut diakui Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau, Evarefita, Kamis (3/3/2022) di Pekanbaru. 

"Kalau dikatakan kelangkahan itu memang terjadi hampir di seluruh provinsi. Karena kuota BBM bio solar kita tahun ini memang berkurang tahun 2022 ini dibanding tahun 2021," katanya. 

Lebih lanjut Evarefita mengatakan, kuota bio solar untuk Riau tahun 2022 berkurang sekitar 7-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

"Untuk tahun 2022 kuota kita kan sebanyak 794.787 kiloliter. Sedangkan realisasi 2021 sampai Desember, itu sekitar 824 ribu kiloliter. Artinya kuota tahun ini lebih kecil 4 persen dibandingkan realisasi 2021," terangnya. 

Karena itu, pihaknya menyarankan agar pendistribusian bio solar ini harus ada pengawasannya. Artinya ketika BBM berada di SPBU, maka mereka yang harus memilah kendaraan yang pantas mendapatkan subsidi bio solar tersebut. 

"Itu yang kita ingin sampaikan, dan surat edaran Gubernur terkait hal itu sudah ada. Cuma implementasi di SPBU-SPBU yang belum maksimal, dan kita sudah minta PT Pertamina melalui satuan tugasnya harus turun," harapnya. 

Eva mengakui, kelangkahan bio solar sering terjadi di SPBU-SPBU perbatasan provinsi Riau. Hal itu dikarenakan kendaraan yang mengisi bio solar dari plat BM, namun juga kendaraan plat dari provinsi tetangga. 

"Yang tidak tepat sasaran ini yang menyebabkan salah satu kelangkahan bio solar itu. Makanya untuk mengantisipasi ini kita akan lakukan koordinasi dengan instansi terkait Pemprov Riau, setelah itu kita akan melakukan langkah selanjutnya," ujarnya. 

"Kita juga sebetulnya sudah akan membuat surat ke BPH Migas untuk permintaan penambahan kuota bio solar itu," pungkasnya.( PAS/dpc)
Lebih baru Lebih lama